Damn! Penyakit musiman saya kambuh lagi. Dan kali ini bener2 kerasa banget. Kerasa banget – nafas rada sesek, pikiran kosong-bengong-flashback ke jaman kuliah bareng Ahonk Brother, lemes, gak bergairah, rada pusing, gak berhenti ngerokok – parah! Mungkin karna sudah hampir 3 tahun kita gak pernah hang out bareng lagi, gak pernah terlibat ‘deep conversation’ lagi, gak pernah ‘plastar’ lagi (Baca: membumi), tepatnya sie gak ada duit tapi nekat jalan2.
Sudah hampir 3 tahun kita gak pernah membelah sumpeknya kota Jakarta lagi, gak pernah kegiatan ‘after midnight’ lagi, gak pernah ngubek-ngubek daerah Kota lagi. Dari Mabes hingga Daan Mogot, dari Menteng menuju Sarinah, dari Kuningan sampe Tebet – gak lupa warung pletok dan warteg Warmo. Dari Circle K Pancoran hingga Alfamart depan Madonna Club, dari Jagorawi hingga Cipularang, dari Berlian hingga Pangrango sampe Kenari Bliyard. Semuanya tinggal kenangan.
Kita cuma Say Hello di FS. Telpon2an yang gak lebih dari 3 menit pun menjadi ritual yang sangat jarang. Persahabatan kita menjadi hambar, layaknya sinar matahari yang panas menyinari di siang hari lambat laun terbenam berganti malam. Tapi kita berdua masih menyakini kalo kita masih sebagai sahabat – even more than closed friend. Kita berdua masih bersahabat meski hubungan kita tak seperti umumnya sebuah persahabatan.
Kita berdua masih menghargai proses persabatan yang telah kita jalin. Dimana kita pertama kali kenal, kapan kita pertama kali hang out bareng, kapan dia tidur di depan Kedutaan Portugis, kapan gw muntah2 di mobil hbs dari Liquid, dimana biasanya kita menghabiskan malam kalo gak punya duit, dimana kita menghabiskan malam kalo lagi banyak duit, lagu apa yang biasa kita puter untuk menemani perjalanan kita, kapan kita terakhir ketemu, gimana acara perpisahan kita berdua waktu itu.
Saya mungkin terlihat naif. Tapi itulah saya. Saya sangat menghargai sebuah proses, so does he. Buat saya persahabatan itu sesuatu yang sakral. Seorang sahabat lebih dari seorang pacar. Dia selalu ada saat saya susah, tapi dia gak harus ada saat saya seneng and so do I. Buat saya penghargaan atas sebuah proses persahabatan kita menjadi hal yang biasa – ‘tak terlalu dramatis’, ketika kita berdua menyadari bahwa kita Anak Kampung yang nyantri di Jakarta.
Betapa Jakarta telah membuat kita berkali-kali ngutang warung sebelah kost, betapa Jakarta telah berkali-kali membuat kita harus berbagi satu bungkus Indomie. Betapa Jakarta telah ratusan kali menjadikan Gudang Garam Filter setengah bungkus sbg pelacuran kami berdua. Betapa Jakarta sesekali sangat menjengkelkan dan memaksa kita berdua ngubrak2 kolong dipan tempat tidur, ngubrak2 seisi kamar dengan mimpi: “sapa tahu ada recehan gopek ngendon yang bisa buat nambah2 beli sarapan!”.
Dengan tampang ndeso, gaya katrok, logat medok, kita telah sukses melalui kehidupan Ibukota meksi meninggalakan beberapa pertanyaan yang belum tuntas kita temukan jawabannya. But at least Ibukota tak pernah berhasil 100% men-doktrinasi kita berdua. Kita berdua tak pernah benar2 larut dalam kehidupan hedonis kaum urban dan kita tak pernah benar2 kecebur dalam ‘Urban Attitude’. ‘Aku yo tetep tepo sliro.’
Dua lagu milik Plastik ini membuat saya flasback ke masa-masa itu dengan sangat dalam. Lagu-lagu Plastik, termasuk dua lagu dibawah ini adalah teman kami tatkala malam mulai datang – meluncur membelah keangkuhan Ibukota. Hampir 2 tahun lagu-lagu Plastik Band selalu menjadi Top Playlist di Mobil bahkan ketika itu mengalahkan nikmatnya musik Reggae.
Selama itu pula lagu-lagu Plastik menjadi bagian kehidupan kita berdua pada waktu itu – 2 pemuda kampung yang menyakini bahwa kuliah bukanlah jawaban untuk mencari pekerjaan. Kuliah adalah tempat kami mencari pengalaman dan teman, ijazah dan pastinya untuk menjaga gengsi bukan? Syukur2 dapet ilmu pengetahuan, anggap itu sebuah bonus.
Seperti kata sebuah pepatah “Pengalaman adalah guru yang terbaik, pengalaman mahal harganya”, anggap saja petualangan kami adl sebuah pengalaman, kompensasi dari besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua kami.
Plastik Band – Statis.
Plastik Band – Error.
Pye Honk kabarmu? Wish U best forever.
Our hearts are made of rock, can’t be destroyed for hundreds years.
Tag:Kuliah, Musik Indonesia, Persahabatan, Plastik Band, Sekolah
Langsung menuju TKP bos…!
Jaman mudamu dulu waktu lagi marak-maraknya musik beraliran alternatip yo mbal
Btw setuju nda dengan yang ini “Kuliah adalah tempat kami mencari pengalaman dan teman” ijasah hanyalah satu syarat biar bisa pake toga dan photo bersama orang tua . Biar mereka merasa bahagia… wakakaka
@ bujang,
monggo.. silaken..
@ regso,
sekarang kita harus merubah paradigma berpikir kita ndez.. Saya sekolah kemudian kuliah bukan untuk mendapatkan pekerjaan. Saya sekolah – menuntut ilmu secara formal – krn dlm Agama saya: orang yang menuntut ilmu dapat pahala dan derajatnya dinaikkan di mata Tuhan saya. Juga cari pengalaman. Kemudian cari relasi dan menjaga gengsi. Sekolah, kuliah apapun itu namanya yang berlabel formal, tak lebih dari proses konstruksi berpikir – pembangunan pola pikir.
Jangan pernah berpikir kalo sekolah atau kuliah adalah tiket VIP untuk mendapatkan pekerjaan.
Bill Gates, Steve Jobs, Susi Pudjiastuti – pengusaha hasil laut yang kaya raya -, Bob Sadino adalah contoh hidup dari argumentasi saya.
gw juga jadi kangen masa-masa di padang dulu…
bareng sahabat..
@ Shige,
Sama Shig…
Keep On Reggae Bradds….
Klo mo download 10 lagu TEHMANIS Rasa Reggae Gratis tapi L.I.M.I.T.E.D. kunjungin deh Blog http://tehmanisrasareggae.blogspot.com
Regards,
Cuman satu kalimat yang bisa ane bilang
” Maen KaLi Bah… ” xiixixixix…
Gua suka cara loe dalam menyampaikan kata-kata
…
kebetulan lagu Plastik yang diatas ada di dalam playlist AIMP2 ane
Gara-gara ente gua jadi sibuk nih nyariin lirik nya
huehueheuheue…
Good Luck Bro…
Life Must Go On
ada lagu plastik judul’y seperti.
coba buka d web.
http://gosonglirik.blogspot.com/
gua suka semuanya, gua lagi sekolah di eropa, tapi bagi gua sekolah untuk melihat apa yang dilakukan oleh orang eropa hingga bisa maju. seperti kata plastik, seperti apa sajalah…
gue dah suka dri dulu…. jaman gw sma…
musik ya unik soul banget……
asik bacanya
keren brp , gue baca postingan lo sambil dengarin lagunya plastik – mulai dari mana… lol …
salam kenal..
saya ingat kenal plastik dari lagu statis… waktu itu masi sekolah.
mungkin cara hidup dan bergaul kita mempengaruhi selera musik kita. kami dan beberapa teman lainnya sering dengar dan sangat akrab dengan lagu2 nya plastik.
tapi sayang mereka bubar. saya suka musik dan lirik2 lagunya yang mencerminkan hidup dan situasi kami saat itu…..
TOP, btw ada yang punya video klip plastik gak? kasih linknya dong. nuhun
Mantap, seperi gambaran waktu kuliah dimakassar dulu, kesombongan atas usia muda, gak pernah merasa sakit walaupun perut terkadang terasa perih ketika uang kiriman lambat datang tp itu semua bisa dilalui saat ngumpul bareng sahabat, Aku jg pernah punya album plastik, aliran nya dapat merubah situasi jenuh menjadi kekuatan untuk mengalahkan rasa takut akan ketidakbisaan melewati keadaan sulit (Simpan saja didalam hatimu….dst) lam kenal
Bro,
Izin share cerita di atas di sini yah : http://plastiker.blogspot.com/2010/11/berbagi-cerita-plastik-3-plastik-band.html
Semoga tidak keberatan dan tetap semangat selalu
PLASTIKFriens
q lg ktmu ni lgu2ny
mantap oe . ..
cerita u keren brad . ..
andai q ngrsain kyk tu . ..
tp ni lah idup . ..
ad cerita2 beda yg kgkkan bz dlupakan
P
L
U
R
dr q brad